Katak termasuk hewan yang diharamkan untuk dikonsumsi oleh umat muslim. Deteksispesies hewan terlarang dalam makanan sangat penting untuk melindungi konsumen dari bahanharam. Indonesia memiliki banyak jenis makanan yang dipengaruhi oleh keberagaman suku dan budaya yang ada di masyarakat. Salah satu jenis makanan yang cukup populer adalah swike, makanan etnis Tionghoa yang terbuat dari daging katak. Beberapa masyarakat bereksperimendengan mengganti bahan dasar swike dari daging non-halal menjadi daging halal seperti dagingayam karena daging katak merupakan salah satu daging non-halal. Namun, terdapatkemungkinan pencampuran daging kodok pada swike yang telah dimodifikasi tersebut, sehinggamasyarakat yang tidak mengetahuinya dapat secara tidak sengaja mengkonsumsi makanan non-halal. Hal ini menunjukkan adanya urgensi penelitian dengan menemukan metode deteksipencemaran katak. Indonesia menjadi salah satu negara pengekspor paha katak terbesar denganvolume ekspor pada kurun waktu 2020-2024 sebesar 65juta ton. Hal ini menunjukkan bahwatingkat produksi paha katak untuk keperluan ekspor sangat besar dan terdapat limbah bagiantubuh lain pada katak yang dapat digunakan sebagai bahan adulterasi.
Pengembangan metode deteksi yang presisi, akurat, efisien, murah, dan cepat terusdilakukan. Metode RT PCR dipandang merupakan metode yang paling baik untuk mendeteksicemaran daging non-halal. Peneliti pada Learning Center (LC) Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) Universitas Gadjah Mada yang terdiri dari Prof. Dr. Lily Arsanti Lestari, STP., MP., Prof. Dr. Abdul Rohman, apt. Marlyn Dian Laksitorini, M.Sc., PhD., Dr. Ir. Mohammad Zainal Abidin, S.Pt., M.Biotech., IPM., Dr. Ir. Nurulia Hidayah, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., dan Prof. Ir. Yuny Erwanto, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM. dan dibantu mahasiswa S3 dari Prodi Doktor Perekonomian Islam dan Industri Halal, Sekolah Pasca Sarjana UGM telahmenemukan primer spesifik yang dapat mendeteksi daging katak. Dengan adanya primer spesifikini, akan memudahkan deteksi adulterasi daging ayam dengan daging katak yang kemungkinandijual di pasar-pasar tradisional. Penelitian terkait kehalalan produk pangan ini ikut mendukungtema Sustainable Development Goals (SDGs) ke-2 yaitu mengakhiri kelaparan, mencapaiketahanan pangan dan gizi yang lebih baik serta SDGs ke-3 yaitu memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua.
